The Dark Blue (part 2)

Enam tahun yang lalu…


Rhe,hari ini kamu gak usah masuk sekolah dulu. Udah Bapak buatin surat izin kok. Nenek meninggal dunia. “oh…”. Kok bisa ya,perasaaanku benar. Tiga hari lalu di benakku tiba-tiba terlintas pikiran kalau Nenek akan meninggal. Hmmm... tauk,ah. Gak usah mikir itu,langsung kesana saja.
Keranda yang membawa Nenek sudah berjalan menuju pemakaman,ketika mentari sudah condong ke barat. Aku sakit! Ups! Pikiran itu merasuk tanpa permisi. Kalau aku sakit beneran gimana? Dan akupun merasa seperti memiliki kemampuan aneh,saat tiga hari kemudian aku betul-betul sakit. Aku merasa apa yang terlintas di pikiranku selalu benar-benar terjadi.

Dua tahun kemudian...



Aku berkunjung ke rumah tanteku. Saat kami mengobrol di teras,lelaki berpakaian seperti dukun menghampiri kami dengan entah apa yang ada di tangannya. Anehnya,tanteku tertarik dengan benda yang dibawanya itu. Mamaku juga. Aneh. Padahal aura lelaki itu menakutkan. Aku merasa kalau dia akan menyerang kami tanpa ampun. Melihat reaksi tante dan mamaku yang menyambut baik lelaki itu,aku berteriak sekencang-kencangnya. “Dasar ibu-ibu aneh”, pikirku mendengar ibuku mengomel sepanjang jalan menuduhku tidak sopan! Dan entah kenapa firasatku berkata kalau lelaki itu akan menyerang tanteku dengan cara santet lewat jalan sebuah kecelakaan fatal!


Huahhhemmm,.. aku menguap malas-malasan ketika jam sudah menunjukkan pukul setengah enam pagi. Sesaat aku linglung, mimpi apa aku tadi barusan? Kok aneh ya,tapi ah itu gak mungkin tejadi, itu yang selalu ayah bilang ketika aku bercerita tentang mimpi-mimpiku. “Mimpi kan cuma bunga tidur,apa artinya sih nak? Bahkan ayah ibuku pun menganggap aku sang pengkhayal ulung. Menganggap mimpi-mimpi hanyalah imajinasiku yang terlalu melayang. Aku berusaha mempercayai kata-katanya, toh aku hanya gadis kecil yang tak pernah didengar ketika bersuara.


Sampai pada suatu saat yang begitu mengejutkan. Ayah pulang membawa kabar kalau tante kecelakaan dan dirawat di sebuah rumah sakit. Aku yang sudah mulai melupakan mimpiku terpaksa mengingat kembali mimpi aneh nan mengerikan itu. Tahulah aku kini, bahwa yang diomongkan ayah ibu itu omong kosong! Menganggap mimpi itu sebuah dunia fantasi karanganku sendiri itu omong kosong! Blah,kenapa orang dewasa bersikap meremehkan anak-anak? Aku benci itu!


“Yah,sekarang percaya gak tentang mimpiku itu?” “Mimpi yang mana?” “Yang tante kecelakaan itu,yah!” “Kamu gak pernah mimpi itu, dasar bocah pengkhayal!” Ah,orang dewasa selalu saja seperti itu. Menganggapku tak pernah ada. Apa sih yang ada dalam pikiran orang dewasa itu? Huh!


Aku ini gadis kecil,tetapi suka menguping obrolan orang dewasa. Dari obrolan sesaat,ku mendengar kalau kalau tanteku sebenarnya disantet. Selanjutnya aku tak mendengarkan lagi obrolan mereka. Aku berpikir, betapa orang dewasa meremehkan gadis kecil sepertiku…

2 komentar:

Dilla mengatakan...

wuihh, keren Dhan. rada misteri gimana gitu...

cuma, mending tiap dialog yg kamu kasih tanda petik dikasih jarak satu sepasi
terus, kalo ada flashback kamu bikin tulisannya miring apa gimana gitu, biar beda.

Dhani Muflicha mengatakan...

ok. makasih sarannya..

Posting Komentar